Proposal: Pengertian, Jenis, Struktur, dan Contohnya
1. Pengertian Cerpen Menurut Para Ahli
Cerpen adalah bentuk prosa naratif yang biasanya singkat,
padat, dan memiliki alur tunggal serta karakter yang terbatas. Menurut
Nurgiyantoro (2007) dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, cerpen “bertujuan
untuk menceritakan suatu peristiwa atau pengalaman hidup yang unik atau penting.”
Dengan kata lain, cerpen tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga memiliki
pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca secara ringkas namun mendalam.
2. Struktur Cerpen
Struktur cerpen terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
- Abstrak: Bagian awal yang memberikan gambaran atau
ringkasan singkat tentang cerita.
- Orientasi: Menyajikan latar belakang cerita, termasuk
waktu, tempat, dan karakter utama.
- Komplikasi: Bagian yang mengandung konflik atau masalah
yang dihadapi oleh karakter.
- Evaluasi: Penilaian atas konflik yang sedang dihadapi,
sering kali karakter mulai mencari solusi di sini.
- Resolusi: Pemecahan konflik atau solusi atas masalah.
- Koda: Penutup yang biasanya mengandung pesan atau kesan
akhir cerita.
3. Unsur-unsur Intrinsik Cerpen
Unsur-unsur intrinsik cerpen adalah elemen yang membangun
cerita dari dalam. Menurut Jakob Sumardjo dalam Apresiasi Sastra Indonesia (2000),
unsur-unsur intrinsik dalam cerpen meliputi:
- Tema: Gagasan utama atau ide pokok yang mendasari cerita.
- Tokoh dan Penokohan: Karakter dalam cerita serta cara
pengarang menggambarkannya.
- Latar (Setting): Tempat, waktu, dan suasana di mana cerita
berlangsung.
- Alur (Plot): Urutan peristiwa yang membentuk cerita.
- Sudut Pandang: Cara pengarang menempatkan diri dalam
cerita, misalnya orang pertama atau ketiga.
- Amanat: Pesan atau nilai yang ingin disampaikan kepada
pembaca.
4. Ciri-ciri Cerpen
Beberapa ciri khas cerpen yang membedakannya dari bentuk
prosa lain adalah:
- Ceritanya pendek dan umumnya dapat dibaca dalam satu kali
duduk.
- Mengandung satu konflik utama yang sederhana.
- Memiliki alur tunggal dan jumlah karakter yang terbatas.
- Menyajikan kesan tunggal dan memberikan dampak emosional
bagi pembaca.
5. Jenis-jenis Cerpen
Cerpen dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis
berdasarkan pendekatan ceritanya, antara lain:
- Cerpen Realis: Mengangkat kejadian yang realistis atau
sesuai dengan kehidupan sehari-hari.
- Cerpen Non-realis: Mengandung unsur fantasi atau hal-hal
yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
- Cerpen Romantis: Berfokus pada tema cinta dan emosi.
- Cerpen Petualangan: Mengangkat kisah perjalanan atau
pencarian.
6. Fungsi Cerpen dalam Pembelajaran
Cerpen memiliki fungsi sebagai media pembelajaran yang
efektif. Menurut Siswantoro dalam Metode Penelitian Sastra (2011), cerpen dapat
membantu pembaca, terutama siswa, untuk mengembangkan imajinasi, empati, dan
kemampuan berpikir kritis. Selain itu, cerpen menjadi sarana refleksi atas
nilai-nilai moral, sosial, dan budaya.
7. Kaidah Kebahasaan dalam Cerpen
Kaidah kebahasaan yang umum digunakan dalam cerpen meliputi:
- Pilihan Kata Deskriptif: Untuk menggambarkan suasana,
perasaan, dan latar cerita.
- Kalimat Naratif dan Dialog: Menggunakan campuran narasi
dan dialog untuk memperkuat interaksi antar tokoh.
- Gaya Bahasa: Memanfaatkan metafora, personifikasi, dan
hiperbola untuk memperindah bahasa dan memperkaya cerita.
8. Contoh Cerpen: Rokok di Ujung Buku
Abstrak
Hari itu Aji menerima tugas sekolah untuk menulis tentang
kesehatan. Ia menduga tugas itu akan mudah, hingga ia menemukan sebuah bungkus
rokok di saku seragamnya.
Orientasi
Aji adalah seorang siswa yang suka membaca. Di perpustakaan
sekolah, ia menemukan berbagai buku tentang kesehatan. Suatu hari, di tengah
asyik membaca, ia menemukan sesuatu yang mengubah pandangannya.
Komplikasi
Ketika hendak pulang sekolah, Aji menemukan bungkus rokok di
saku seragamnya. Ia kaget dan bingung, terutama karena ia tahu betul ia tidak
pernah merokok. Di rumah, rasa penasaran semakin menguat, apalagi saat ibunya
bercerita tentang kesehatan paru-paru.
Evaluasi
Aji merasa terganggu dengan pikiran tentang rokok. Ia
bertanya-tanya, “Apakah semua orang yang merokok tahu bahaya yang mereka
hadapi?” Ia memutuskan untuk membaca lebih lanjut tentang dampak rokok.
Resolusi
Di hari berikutnya, Aji menulis esai tentang rokok untuk
tugas kesehatannya, mencantumkan efek buruk rokok berdasarkan buku yang ia
baca. Esai itu mendapatkan pujian dari guru, dan Aji merasa bangga telah
menulis sesuatu yang berarti.
Koda
Aji menyimpan pesan dalam hatinya: menghindari rokok bukan
hanya untuk dirinya, tapi juga sebagai bentuk tanggung jawab bagi orang lain.
Esainya menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk menjaga kesehatan dan
menjauhi rokok.
Referensi:
1. Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press, 2007.
2. Sumardjo, Jakob. Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung:
Mizan, 2000.
3. Siswantoro. Metode Penelitian Sastra. Surabaya: Penerbit
Bina Ilmu, 2011.
Komentar
Posting Komentar